Service, Education and Research


Dharmais Surgical Oncology

National Cancer Centre

Dharmais Surgical Oncology

www.dharmais-surgonc.com

All Right Reserved © www.dharmais-surgonc.com 2013 MOOI

Makanan Cegah Kanker Payudara, Mitos atau Ilmiah?


Annisa Windyani, Bob Andinata



Kanker payudara merupakan penyakit yang timbul akibat dari beragam faktor risiko, salah satunya adalah interaksi antara genetika dan makanan. Selain faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia tua, riwayat kanker dalam keluarga, menarche dini dan menopause terlambat, makanan merupakan salah satu faktor yang dapat dimodifikasi selain gaya hidup dan kontrasepsi.1 Sering kita dengar pertanyaan dari pasien, keluarga pasien, atau orang sehat sekalipun seperti, “Adakah makanan yang dapat menyebabkan atau mencegah kanker?” atau, “Makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi penderita kanker payudara?”. Di Indonesia, pertanyaan tersebut sering dihubungkan dengan mitos dan kepercayaan.

http://hcarepharmacy.blogspot.co.id/2013_06_01_archive.html

Belum jelas data epidemiologi mengenai efek makanan terhadap kanker payudara. Dibawah ini disampaikan beberapa penelitian mengenai jenis makanan tertentu beserta zat yang dikandungnya dan hubungannya dengan kejadian kanker payudara.

1. Makanan tinggi lemak1

Secara umum lemak dalam tubuh akan meningkatkan kadar hormon estrogen dan androgen dalam plasma darah, dimana peningkatan tersebut merupakan faktor risiko terjadinya kanker payudara. Peningkatan kadar lemak juga berhubungan dengan overwight dan obesitas yang merupakan faktor risiko terjadinya kanker payudara.

http://www.newhealthadvisor.com/Foods-High-in-Trans-Fat.html

2. Daging merah1,2

Hasil yang didapatkan pada systematic review yang dilakukan pada tahun 2014 terhadap studi-studi case control dan cohort mengenai konsumsi daging merah dan hubungannya dengan kanker payudara masih tidak konsisten. Dari 14 studi yang dikaji, 7 diantaranya mengatakan terdapat asosiasi positif antara  konsumsi daging merah dengan kanker payudara, sedangkan 7 studi lainnya mengatakan sebaliknya. Kanker payudara sering dikarakteristikan dengan status reseptor hormon esterogen atau progesterone. Cho et al. (2006) melakukan followup selama 12 tahun terhadap wanita pre-menopause yang hasilnya adalah terdapat hubungan kuat antara konsumsi daging merah dan peningkatan risiko kanker payudara dengan reseptor estrogen atau progesteron yang positif.

http://www.dailymail.co.uk/health/article-3310065/Frying-grilling-barbecuing-meat-double-risk-kidney-cancer.html

Hipotesis lain menyatakan bahwa zat Heterocyclic amines (HCAs) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) yang terbentuk pada daging yang dimasak pada suhu tinggi, seperti digoreng, dipanggang dengan api langsung, dan pengasapan (biasanya sekitar 150°C) berhubungan dengan meningkatnya risiko kanker payudara, namun mekanismenya masih belum jelas. Pada akhirnya, daging merah dan cara memasaknya pada suhu tinggi mungkin beperan dalam pembentukan kanker (karsinogenesis), namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut.


       3. Daun dan buah sirsak3

https://www.penabiru.com/manfaat-buah-sirsak/

Di Amerika terdapat penelitian mengenai efek sirsak terhadap hewan percobaan dan didapatkan sirsak dapat menghambat pertumbuhan sel kanker payudara. Mekanisme yang diteliti adalah sirsak bekerja menghambat reseptor pertumbuhan sel (epidermal growth factor receptor/EGFR). Namun efektivitas sirsak sebagai anti-kanker maupun efek sampingnya terhadap manusia belum diketahui secara pasti.

4. Bawang putih4

https://en.wikipedia.org/wiki/Garlic

Terdapat penelitian yang membuktikan bahwa bawang putih dapat menurunkan risiko kanker, terutama kanker lambung dan usus. Untuk efek anti-kanker terhadap kanker payudara masih kontroversial. Namun bawang putih mengandung zat flavonol (antioksidan) seperti halnya bawang merah/bombay sehingga WHO menyarankan konsumsi bawang putih segar sebanyak 2-5 gram per hari sebagai bagian dari promosi kesehatan umum.

5. Kacang kedelai dan olahannya1,5

http://www.wisdomsofhealth.com/springclean

Kedelai mengandung polifenol yang memiliki sifat antioksidan yang protektif terhadap kanker. Penelitian di Jepang menyatakan bahwa wanita yang sering mengonsumsi makanan berbahan kedelai memiliki risiko kanker payudara yang rendah dibanding yang jarang mengonsumsinya. Hasil yang sama juga terdapat pada penelitian di Singapura yang menyatakan bahwa risiko terkena kanker payudara menurun sebanyak 18% pada wanita yang sering mengonsumsi kedelai. Penelitian lain merekomendasikan konsumsi kedelai sebanyak 5-10 gram per hari dapat menurunkan kekambuhan kanker payudara.

Berdasarkan keterangan di atas, diet makanan tertentu merupakan bagian dari usaha pencegahan terjadinya kanker payudara, bukan suatu pengobatan. Pengobatan itu sendiri dapat berupa pembedahan, kemoterapi, radiasi atau hormonal. Untuk melalui tahapan pengobatan tersebut, penderita kanker payudara membutuhkan asupan gizi yang baik, bukan malah membatasinya. Oleh karena itu pengaturan pola makan yang baik dan sesuai selama menjalani pengobatan kanker payudara harus dilakukan.


Sumber:

1. Mourouti N, Kontogianni MD, Papavagelis C, Panagiotalos D. Diet and breast cancer: a systematic review. Int J Food Sci Nutr. 2014; 1-42

2. Chemical in meat cooked at high temperatures and cancer risk. National Cancer Institute; 2015 [cited 16th of Sept 2016]. Available from: https://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/diet/cooked-meats-fact-sheet

3. Dai Y, Hogan S, Schmelz EM, Ju YH, Canning C, Zhou K. Selective growth inhibition of human breast cancer cells by gravila fruit extract in vitro and in vivo involving downregulation of EGFR expression. Routledge. 2011; 63(5), 795-801

4. Garlic and cancer prevention. National Cancer Institute; 2008 [cited 16th of Sept 2016]. Available from: https://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/diet/garlic-fact-sheet

5. Braakhuis AJ, Campion P, Bishop KS. Reducing breast cancer reccurence: the role of dietary polyphenolics. Nutrients. 2016; 8: 1-15

HOME Back